Jumat, 19 Oktober 2018

POINT OF VIEW : DOKTRIN TRADISI, HINDU BALI SEMAKIN MISKIN?

Hari ini, ada kejadian yang cukup menarik buat saya. Sore tadi saya datang ke sebuah mall terkenal di Bandung. Saya cukup sering berkunjung ke mall tersebut, namun ada sesuatu yang berbeda pada sore ini. Saya bertemu dengan seorang laki-laki yang saya prediksi usianya sekitar 40th, berperawakan tinggi, tegap dan terlihat berwibawa.
"Nak Bali nggih gek?"
"Bali napi?"
Sontak saja suara itu memecah konsentrasi saya yang sebelumnya telah sibuk memilih satu diantara tiga baju yang akan saya beli.
"Oh.. nggih pak, tyang saking Tabanan" 
Saya menjawab sembari terheran-heran, darimana bapak tersebut bisa tahu saya orang Bali. Apakah wajah saya medok Bali? Atau ada sesuatu pada diri saya yang membuat bapak tersebut dapat menebak dengan tepat. Dan benar saja, ternyata dari gelang tridatu pada pergelangan tangan kanan saya yang membuat bapak tersebut dapat menebak dengan akurat.

Saya dan bapak tersebut terlibat percakapan yang sewajarnya, seperti bertanya seputar kuliah, kesibukan yang sedang dijalani sekarang, akan bekerja dimana nantinya. Hanya percakapan klasik yang biasa dilakukan saat bertemu dengan orang baru.
Bapak ini pasti dari Bali juga deh
Terbersit pikiran seperti itu di benak saya. Karena selama berbicara bapak tersebut selalu menggunakan bahasa Bali, bahkan Bahasa Bali halus dengan lancar. Atau bisa jadi tujuan bapak tersebut menggunakan bahasa Bali agar apa yang kami bicarakan tidak dipahami oleh orang lain.

Entah bagaimana awalnya, bapak tersebut sampai pada pertanyaan yang menurut saya cukup sensitif.
"Gek-nya Hindu nggih?
Yaaa.. bapak tersebut bertanya tentang agama saya. Karena anggapan saya bapak tersebut sama-sama orang Bali seperti saya, maka enteng saja saya meng-iya-kan pertanyaannya.

Bapak tersebut tersenyum setelah saya menjawab. Ada sesuatu yang aneh saya lihat disana, bukan senyum bahagia tapi simpul senyum yang seolah menganggap aneh jawaban saya barusan.
"Hebat.. kuat nggih gek-nya"
Serius, ini pernyataan yang membuat saya bingung. Setelah bertanya tentang agama, bapak tersebut meng-klaim bahwa saya kuat.
Benang merahnya dimana ya?
Sebenarnya diksi apa yang sedang digunakan oleh bapak ini?
Pertanyaan itu yang ada dalam benak saya, sembari menunggu beliau melanjutkan pembicaraannya.

Dari apa yang bapak tersebut katakan, saya dapat simpulkan bahwa beliau dulunya adalah seorang pemeluk Hindu yang taat. Bahkan, beliau lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga Brahmana. Semenjak menikah, bapak tersebut memantapkan pilihan untuk berpindah keyakinan.
Sampai disini saya sama sekali tidak ada masalah,  karena menurut saya keyakinan a.k.a agama seseorang merupakan hak pribadi yang sama sekali tidak pantas untuk dipertanyakan/diperdebatkan terlebih lagi saya baru beberapa saat mengenal bapak ini.

Ada satu pembenaran di kepala saya,
Oh mungkin saja matrilineal, makanya ikut istrinya.
Lebih lanjut bapak tersebut dengan sendirinya bercerita tentang alasan untuk berpindah agama. Walaupun saya sama sekali tidak ada kepentingan akan alasan itu, tetapi jujur ada rasa kepo dalam diri saya untuk mengetahui sebenarnya hal apa yang mendorong beliau ini untuk berpindah agama.
"Hindu di Bali to nak ribet, gek"
"Rerainan tuara dadi teka nge-tiban, jeg sabilang wai"
"Tradisine ribet metimpal kaku, nelahang pipis sing ngidang a bedik" 
"Biin misi ngadat, mayah ayah-ayahan, lan menyama braya"
"Waktu telah percuma"
"To sube ngeranayang hidup kramane tuah amontoan dogen, kalah saing ajak anake dauh tukad" 
"Pipis e telah dadi luu" 
Saya tidak menimpali, hanya menyimak perkataan bapak tersebut sembari sesekali menganggukkan kepala. Namun, saat beliau mengatakan penggalan kalimat terakhirnya saya sedikit mengerutkan dahi dan bertanya dalam hati.
Pipis telah dadi luu? maksudnya apa yaa..
Seolah bisa membaca suasana hati saya, bapak tersebut memperjelas kalimatnya. Katanya, kita membeli ataupun membuat banten (upakara hindu) menggunakan uang, hanya selang beberapa waktu digunakan, banten tersebut kemudian dibuang dan menjadi luu (sampah).

Mendengar itu semua rasanya saya sangat sedih, kenapa bisa beliau sampai pada pemikiran seperti itu. Apa yang pernah terjadi atau yang pernah beliau alami sebelumnya? Karena saya meyakini pasti ada sesuatu hal yang menyebabkan beliau sampai pada pemikiran seperti sekarang.

Sepulangnya saya dari mall itu saya terus terngiang ucapan bapak yang saya temui tadi, bahkan hingga sekarang, saat saya menulis blog ini. Saya ingin sedikit beropini seraya memberikan pandangan saya tentang kejadian ini.

Jika kita berbicara tentang Bali, sesungguhnya kita berbicara tentang tradisi di dalamnya. Bali kaya akan tradisi, dan tradisi menjadi jiwa Bali. Namun benarkah tradisi membuat umat Hindu di Bali semakin miskin?

Rasanya susah untuk di-iya-kan.

Disini saya akan bahas mengenai tradisi yang terkait dengan upacara dan upakara, karena kalau pembahasan semua tradisi digabungkan tentunya akan sangat panjang.

Dalam Hindu, mengenal istilah catur marga yang artinya empat jalan untuk menujuNya.

  • Bhakti marga adalah menempuh jalan dengan cara melakukan bakti kepadaNya, menyayangi sesama, dan segala makhluk ciptaanNya. 
  • Karma marga adalah menempuh jalan dengan cara melakukan perbuatan baik kepada semua makhluk tanpa rasa pamrih. 
  • Jnana marga adalah menempuh jalan melalui ilmu pengetahuan (veda, bhagavad gita, itihasa, purana
  • Raja yoga marga adalah menempuh jalan melalui meditasi.  
Benar, tidak ada secara gamblang disebutkan mengenai banten (upakara) dalam catur marga tersebut. Lantas mengapa banten erat kaitannya dengan upacara keagamaan umat Hindu di Bali? bahkan sampai ada wacana yang mengatakan bahwa tradisi membuat banten inilah sebagai salah satu faktor masyarakat miskin di Bali.

Saya coba untuk menelaah lebih dalam.

Pada jalan bhakti marga, Tuhan dipersepsikan memiliki bentuk atau berwujud (saguna brahman), maka pendekatan bhakti yang dilakukan kerap menggunakan alat bantu yang salah satu contohnya adalah banten. Banten itu sendiri memiliki banyak macam, bentuk, rupa, bergantung dari tingkat pemahaman masing-masing individu.

Memang benar, banyak hari yang disucikan oleh umat Hindu (hari raya) ada yang jatuh setiap 15hari, 30hari, 6bulan, dan 1 tahun. Setiap harinya umat Hindu juga penghaturkan upakara sebagai wujud terimakasih kepadaNya. Sekarang muncul satu pertanyaan,
Jika umat setiap hari harus menghaturkan upakara, maka ada indikasi pengeluaran juga semakin besar?
Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada satu buah sloka yang sebaiknya kita pahami dengan baik.
patram puspam phalam toyam   yo me bhaktya prayacchati   tad aham bhakty-upahrtam   asnami prayatatmanah (bhagavad gita, bab ix, sloka 26)
yang artinya :
Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah atau air dengan cinta bhakti, Aku akan menerimanya. 
Konsepnya sangat sederhana, namun memerlukan pemahaman yang luar biasa.

Tidaklah ada aturan yang mutlak tentang upakara. Jika saya amati, beragama di Bali tidaklah kaku seperti yang banyak orang katakan. Sebagai bukti fleksibelnya beragama di Bali, ada tiga konsep penggolongan upakara, yaitu: utama, madya, nista. Umat diberikan kebebasan untuk memilih disesuaikan dengan kemampuan dan juga kondisi masing-masing.

Ada yang bersembahyang hanya menghaturkan bunga, ada yang merasa cukup dengan menggunakan dupa, ada yang merasa perlu mempersembahkan makanan, minuman, dan ada yang merasa persembahan ter-ideal adalah dalam bentuk uang (dana punia). Semua itu boleh saja, tidak ada satupun setau saya yang dilarang karena hal itu menyesuaikan dengan capaian pemahaman spiritual tiap orang.

Ada sebuah perumpamaan yang sangat mengena di hati saya terkait dengan hal ini.
Saat kita masih kecil, kita  membahagiakan orang tua dengan cara memetikkan bunga di halaman rumah dan memberikannya langsung pada orang tua. Orang tua merasa senang akan perbuatan anaknya.
Saat kita sudah mulai sekolah, kita membahagiakan orang tua dengan cara membelikan sesuatu yang mereka suka, tentunya dengan budget yang terbatas karena sesungguhnya kita membelikan sesuatu tersebut dengan uang pemberian orang tua. Namun, orang tua tetap merasa senang akan perbuatan anaknya. 
Saat kita sudah bekerja, kita membahagiakan orang tua dengan cara memberikan uang tunai, rumah, mobil, dan perhiasan berkilau. Orang tuapun merasa senang akan perbuatan anaknya. 
 Sampai akhirnya pada satu titik, segala macam materi tidak perlu lagi kita berikan pada orangtua, cukup dengan merawat dan menjaga dengan kasih sayang  atau hanya sekedar duduk disampingnya dan mendengarkan segala ceritanya. Orang tua juga merasa senang akan perbuatan anaknya. 
Sejatinya, jalan apapun yang kita ambil adalah benar selama didasari rasa bhakti kepadaNya. Benar sesuai dengan tingkat capaian pemahaman spiritual tiap individu. Yang keliru adalah jika kita menyalahkan jalan pilihan orang lain dan menganggap bahwa jalan kitalah yang paling benar. Dan tidaklah tepat apabila tradisi dijadikan alasan penyebab kemiskinan di Bali.


Lantas..
Masih pantaskah menyebut Hindu ribet?
Pantaskah meng-kambing hitamkan tradisi sebagai penyebab kemiskinan?

Pantaskah menjadikan tradisi sebagai alasan untuk berpindah keyakinan?
Pantaskah menyalahkan agama?

Agama yang salah?
Atau keimanan yang lemah?

Mari renungkan bersama !


Semoga kita semua selalu berada di jalan Dharma. 






  






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HARAPAN DARI TIMUR

Akhirnya, Panggilan telah terjawab Sebuah impian dan cita-cita mulia Katanya, Kualitas manusia diukur dari keputusan hidupnya Akumulas...